Tentang Kami


FORTASBI (Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia) adalah forum yang digagas oleh beberapa NGO dan organisasi pekebun kelapa sawit di Indonesia pada tanggal 14 Agustus 2014 di Jambi dan sebagai sebuah wadah untuk meningkatkan kapasitas pekebun swadaya kelapa sawit menuju sertifikasi berkelanjutan. Gagasan ini dibangun dengan harapan terdapat forum yang menjadi wahana diskusi bagi pekebun-pekebun swadaya di Indonesia dan NGO untuk bersama-sama mempromosikan minyak sawit berkelanjutan baik itu dengan skema RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) dan bahkan ISCC (International Sustainability and Carbon Certification). FORTASBI juga diharapkan mampu menjadi tempat belajar bagi pekebun swadaya untuk peningkatan kapasitas pekebun-pekebun swadaya baik yang telah mendapatkan sertifikat berkelanjutan (sustainability) maupun yang sudah memiliki komitmen dan sedang dalam proses menuju sertifikasi.

Anggota FORTASBI hingga saat ini berjumlah 14 kelompok tani, diantaranya Asosiasi Swadaya Amanah dan Asosiasi Petani Swadaya Mandiri dari Riau; GAPOKTAN Tanjung Sehati, Forum Pekebun Swadaya Merlung Renah Mendalu, KUD Makarti, Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari, dan Asosiasi Citra Putra Harapan dari Jambi; KUD Teratai Biru, KUD Tuhu Asih, KUD Marga Makmur, dan KUD Karya Mulya dari Sumatera Selatan; UD Lestari dari Sumatera Utara; KUD Tani Subur dari Kalimantan Tengah; dan Koperasi Keling Kumang dari Kalimantan Barat. NGO atau Mitra FORTASBI yang turut menggagas yaitu Yayasan SETARA Jambi, WWF Indonesia, SNV, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Sawit Watch dan Yayasan Penelitian Inovasi Bumi (INOBU).


Tujuan

    Forum petani kelapa sawit berkelanjutan Indonesia bertujuan untuk mengangkat potensi petani swadaya dalam berdiri di suatu     forum internasional.


Visi

    Mendorong sumber kehidupan petani yang berkelanjutan untuk generasi saat ini dan generasi mendatang.


Misi

     1. Mentransformasikan praktik perkebunan yang berkelanjutan
    2. Menjadi jembatan komunikasi antara petani dengan stakeholders (consumer, government, bank, donor, NGO dan mills)
    3. Memperkuat kapasitas dan pengetahuan petani melalui Sekolah Petani


ProgramKerja

    1. Pelayanan Sekolah Petani (Kerjasama dengan WRI)
    (deskripsi)
    2. Launching Sekolah Petani
    (deskripsi)
    3. Pertemuan Tahunan dan Kunjungan Belajar ke KUD Tani Subur
    (deskripsi)
    4. Kunjungan ke Anggota FORTASBI – Koperasi Keling Kumang
    (deskripsi)
    5. RSPO RT16
    (deskripsi)
    6. Kunjungan ke Anggota FORTASBI – UD. Lestari
    (deskripsi)





Kemitraan


Anggota

ASOSIASI SWADAYA AMANAH – RIAU

Asosiasi Pekebun Sawit Swadaya Amanah (Asosiasi Amanah) merupakan organisasi pekebun yang tersusun dalam struktur grup sertifikasi Internal Control System (Sistem Pengelolaan Internal/SPI). SPI merupakan standar grup sertifikasi yang harus digunakan bagi pekebun kelapa sawit swadaya dalam pengelolaan perkebunan untuk mencapai sertifikasi RSPO. Pada awal mula dibentuk, Asosiasi Amanah berasal dari 10 kelompok tani dengan jumlah anggota 349 pekebun dengan luasan kebun 763 Ha.

Asosiasi Pekebun Sawit Swadaya Amanah (Asosiasi Amanah) merupakan gabungan dari kelompok tani kecil yang ada di 3 (tiga) desa, yaitu Desa Trimulya Jaya, Desa Bukit Jaya, dan Desa Air Emas Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan yang dibentuk untuk mempermudah upaya pembangunan kebun mulai dari pembukaan lahan, pembuatan jalan dan jembatan, penyediaan bibit dan penerbitan legalitas tanah. Asosiasi Amanah, didirikan pada tanggal 25 April 2012 dan berkedudukan di Kabupaten Pelalawan, Riau. Hingga tahun 2018, Asosiasi Amanah memiliki 501 anggota Pekebun dengan luas areal 1.048 Hektar. Kesemua anggota tersebut kini telah mendapatkan sertifikat RSPO pada tahun 2013 dan tahun 2017. Beberapa anggota Asosiasi Amanah, atau sekitar 318 pekebun dengan luas 594 Hektar lolos mendapatkan sertifikat ISPO.


ASOSIASI PETANI SWADAYA MANDIRI - RIAU

Asosiasi Mandiri adalah suatu organisasi petani sawit swadaya murni yang berlokasi di Desa Sungai Buluh, Kec. Singingi Hilir, Kab. Kuantan Singingi, Propinsi Riau. Asosiasi Mandiri mulai terbentuk pada tanggal 30 Oktober 2014, dengan jumlah anggota 86 petani dan luas 166,33 Ha. Asosiasi Mandiri terbentuk dalam rangka untuk mewujudkan gabungan kelompok tani sawit swadaya yang akan mengikuti proses sertifikat RSPO di Indonesia serta menjadi petani sawit yang turut mendukung perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Asosiasi Petani Sawit Swadaya Mandiri terletak di Desa Sungai Buluh. Desa Sungai Buluh mempunyai penduduk 5.336 jiwa terdiri dari 1.386 KK dengan jumlah laki-laki 2.735 dan perempuan 2.601, dan mayoritas beragama Islam 90%.

Asosiasi Mandiri terwujud atas kerjasama berbagai pihak yakni Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, WWF Indonesia serta 5 kelompok tani sawit swadaya yang bersedia untuk ikut dalam proses sertifikasi RSPO. Secara teknis pembinaan perkebunan dari berbagai pihak sangat membantu Asosiasi Mandiri dalam menerapkan praktik perkebunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Di lain hal, pendampingan melalui penguatan sistem kontrol internal (Internal Control System/ICS) oleh WWF Indonesia, bersama-sama bersinergi mewujudkan Asosiasi Mandiri menjadi petani sawit swadaya yang akan mendapatkan sertifikat RSPO.

Visi dari Asosiasi Mandiri yaitu meningkatkan taraf hidup petani kelapa sawit swadaya mandiri dan meningkatkan kualitas produk sawit swadaya mandiri dan potensi ekonomi dari petani kelapa sawit swadaya mandiri dengan cara memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja petani kelapa sawit swadaya mandiri serta aspek lingkungan. Misi nya adalah meningkatkan kesejahteraan anggota Asosiasi Petani Kelapa Sawit Swadaya Mandiri, meningkatkan kwalitas produk sawit swadaya mandiri, dan meningkatkan potensi ekonomi produk sawit swadaya mandiri. Asosiasi Mandiri juga memiliki motto yaitu “Petani sawit swadaya Mandiri, petani yang mengutamakan Kemandirian, Pendidikan, Demokratis, Transparan, Bertanggung Jawab, Ekonomis dan ramah lingkungan”


GAPOKTAN TANJUNG SEHATI – JAMBI

GAPOKTAN Tanjung Sehati resmi berdiri pada tahun 2009 dan berkedudukan di Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi. Organisasi ini memiliki misi untuk mempromosikan produksi minyak sawit berkelanjutan di Propinsi Jambi menuju kesejahteraan pekebun mandiri. Sejak tahun 2013, GAPOKTAN Tanjung Sehati terdaftar dengan Badan Hukum Nomor 80 tanggal 8 Mei 2013.

GAPOKTAN Tanjung Sehati adalah GAPOKTAN yang dibentuk dan didirikan oleh pekebun secara swadaya dan atas inisiatif mereka sendiri. Hingga kini, GAPOKTAN Tanjung Sehati memiliki 6 kelompok tani dengan anggota sebanyak 227 KK dengan luas lahan mencapai 346,57 Ha yang merupakan pekebun-pekebun yang berasal dari Transmigrasi Umum yang dilakukan oleh Pemerintah sejak tahun 1980-1984. Tujuan pendirian GAPOKTAN Tanjung Sehati adalah untuk menjawab persoalan-persoalan pekebun terutama pekebun sawit swadaya yang berada di Desa Mekar Jaya. Beberapa persoalan itu adalah:

1. Rendahnya harga produk milik pekebun swadaya;
2. Rendahnya akses pekebun swadaya pada informasi sehingga juga berdampak pada rendahnya pengetahuan pekebun swadaya dalam budidaya kelapa sawit. Tak jarang, pekebun swadaya menggunakan pengalaman otodidak dalam mengelola kebun mereka. Rendahnya akses juga terlihat pada kualitas bibit yang mereka tanam di kebun mereka;
3. Panjangnya rantai penjualan TBS;
4. Rendahnya dukungan dari pihak pemerintah setempat dan bahkan dari perusahaan terdekat terutama dukungan modal, pasar, dan pembangunan kapasitas pekebun.


FORUM PETANI SWADAYA MERLUNG RENAH MENDALUH - JAMBI

FPS-MRM adalah lembaga yang didirikan oleh pekebun-pekebun kecil di 5 desa di Kecamatan Merlung dan Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi pada tanggal 15 Juli 2015. Kelima desa yang tergabung adalah Desa Merlung, Desa Lubuk Terap, Desa Pulau Pauh, Desa Rantau Benar dan Desa Sungai Rotan.

FPS-MRM dibentuk sebagai Lembaga Internal Control System (ICS) untuk sertifikasi minyak sawit berkelanjutan. FPS-MRM memiliki anggota sebanyak 172 pekebun dengan luas areal 458 Ha. Seluruh anggota FPS-MRM adalah pekebun swadaya. Pekebun swadaya yang terlibat sebagai anggota FPS-MRM adalah pekebun yang berasal dari masyarakat asli atau lokal. Sebelum berkebun kelapa sawit, mayoritas pekebun adalah pekebun karet alam. Rendahnya harga karet dan makin banyaknya karet-karet yang sudah tua, juga memicu makin banyaknya pekebun-pekebun di wilayah ini yang mengusahakan menjadi pekebun kelapa sawit. Keberadaan pekebun-pekebun transmigran dan perusahaan perkebunan kelapa sawit di sekeliling mereka, juga turut memicu para pekebun untuk mencoba bertanam kelapa sawit, meskipun pengetahuan budidaya kelapa sawit para pekebun masih sangat minim.


KUD MAKARTI -JAMBI

KUD Makarti merupakan lembaga ekonomi yang berada di desa Sido Mukti. KUD Makarti sendiri berdiri dari pemecahan desa yang awalnya tergabung di dalam Desa Petaling Jaya. Pada tahun 2011 terjadi pemecahan desa yang mulanya satu desa Petaling Jaya menjadi dua desa yakni Petaling Jaya dan Sido Mukti. Pada mulanya masyarakat desa Sido Mukti belum memiliki KUD tersendiri sehingga mereka masih tergabung didalam KUD Marga Jaya yang terdapat di desa Petaling Jaya. Masyarakat desa Petaling Jaya dan Sido Mukti sama-sama berasal dari masyarakat transmigrasi.

Pada bulan Januari terjadi rapat bersama di desa Sido Mukti untuk membahas lembaga ekonomi yang akan didirikan mengingat desa Sido Mukti sudah berdiri namun belum memiliki lembaga ekonomi sendiri. Maka diperoleh kesepakatan akan mendirikan lembaga ekonomi sendiri yakni KUD yang diberi nama Makarti yang berasal dari bahasa jawa Makaryo yang berarti Bekerja. Dalam rapat tersebut terpilih tiga pengurusan yakni Sdr. Subagyo (Ketua), Sdr. Sufyan (Sekretaris), dan Sdr. Purwoto ( Bendahara ). Maka pada tanggal 23 Januari diadakan rapat bersama yang dihadiri Dinas Koperasi Kab. Muaro Jambi maka disepakati berdirinya KUD Makarti. Pada awal dibentunya KUD Makarti terdiri dari 10 kelompok tani dengan jumlah anggota 286 dengan luasan wilayah seluas 572 Ha.

Dalam pendirian awal KUD Makarti banyak sekali mengalami kesulitan dan hambatan. Salah satu permasalahan awal yakni tidak adanya modal dalam proses pendirian. Permasalahan bukan hanya berhenti sampai disitu saja, minimnya kepercayaan perusahaan akan kemampuan pengurus dalam pengelolaan TBS yang akan dikirim keperusahaan. Kedua hal tersebut yang memicu fakumnya kegiatan koperasi sehingga kegiatan anggota tetap masih menumpang di KUD induk yakni KUD Marga Jaya. Walau sudah berdiri namun KUD Makarti belum bisa beroperasi layaknya KUD yang mengelola TBS. Baru pada tahun 2014 KUD Makarti dapat beroperasi dan dapat mengirimkan TBSnya keperusahaan secara langsung.


KUD TUHU ASIH – SUMATERA SELATAN

KUD Tuhu Asih berdiri pertama kali di Desa Setia Marga yang di prakarsai oleh Kepala Desa waktu itu yang dijabat oleh Bapak Sujadi. Pendirian KUD pada tahun 1988 yang dideklarasikan di Kantor Kepala Desa dan di hadiri oleh perwakilan warga dari 5 dusun yang ada dalam wilayah Desa Setia Marga.

Kebutuhan akan adanya lembaga koperasi dalam rangka menjawab tantangan waktu itu, bahwa program-program bantuan pemerintah yang bersifat ekonomi rakyat harus melalui koperasi. Ruang lingkup kerja KUD waktu itu menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian seperti bibit dan benih tanaman, traktor dan program KUT (Kredit Usaha Tani). Program KUD berjalan seperti itu dari tahun 1988 sampai 1996.

Pada tahun 1994, PT. PP. London Sumatera Tbk (PT. Lonsum), mulai membuka perkebunan kelapa sawit di wilayah Desa Setia Marga. Sejalan dengan adanya kewajiban PT. Lonsum harus membangun kebun petani plasma, sebagai perusahaan inti PT. Lonsum juga bersama Dinas Koperasi membina KUD Tuhu Asih menjadi wadah perhimpunan petani. Pembinaan yang dilakukan oleh PT. Lonsum secara intensif mulai dilakukan pada tahun 1996.

Setelah KUD menjadi rekan kerja PT. Lonsum memberikan pengarahan manajemen sedikit demi sedikit dengan manajemen yang lebih baik. SDM yang kurang dan tingkat kepercayaan dari masyarakat tentang perubahan pola tanam komoditas pertanian sering menyebabkan terjadinya salah paham, karena sebelumnya masyarakat yang biasanya menanam karet harus berubah ke tanaman kelapa sawit dan banyak petani yang belum percaya. Selain itu tantangan lainnya, mulai bermain oknum-oknum makelar tanah yang menyebabkan tumpang tindih kepemilikan lahan. Jumlah kebun petani eks plasma 728 kavling semua merupakan anggota KUD Tuhu Asih, baik yang berdomisili desa Setia Marga sebagai tempat berdirinya kantor KUD maupun yang tinggal di luar desa Setia Marga. Dari 728 kavling tersebut di bagi dalam 28 kelompok tani. KUD Tuhu Asih dapat menyelesaikan main audit pertama pada 2 Desember 2016.


KUD MARGA MAKMUR – SUMATERA SELATAN

KUD Marga Makmur didirikan pada tanggal 9 Juli 1985 dengan jumlah anggota awal berjumlah 250 orang. KUD Marga Makmur terbentuk dan beranggotakan warga transmigrasi yang bermukim di Desa Marga Makmur dan warga local/setempat dengan tujuan untuk menyejahterakan anggota nya dan masyarakat yang berdomisili di Desa Marga Baru dan sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, pada bulan November 2000 jumlah keanggotaan bertambah menjadi 839 orang. Beberapa tantangan yang dihadapi adalah perlunya perjuangan dalam menjalankan Koperasi Marga Makmur dan meyakinkan masyarakat akan manfaat yang besar dari didirikannya Koperasi Marga Makmur. Masyarakat Desa Marga Baru terdiri dari warga transmigrasi dan warga lokal yang berprofesi sebagai pekebun, pedagang, wiraswasta, buruh, pegawai sipil dan lainnya.


KUD KARYA MULYA – SUMATERA SELATAN

KUD Karya Mulya beralamat di Desa Bumi Makmur, Kecamatan Nibung, Kabupaten Musi Rawas Utara, berdiri tanggal 14 Oktober 1986 baru didaftarkan dalam Buku Daftar Umum Koperasi Kantor wilayah Departemen Koperasi Propinsi Sumatera Selatan dengan akta pendirian tertanggal 30 September 1987 Nomor 002765/BH/XX, pada saat itu KUD dipercaya oleh Pemerintah untuk menangani KUT (Kredit Usaha Tani) dengan usaha penanaman kedelai.

Pada tahun 1995, KUD Karya Mulya bekerja sama dengan PT. London Sumatera Indonesia Tbk dengan pola Kemitraan membangun Kebun Petani dengan Tanaman Sawit. Sejak tahun 1998, kelapa sawit mulai menghasilkan, KUD Karya Mulya membuka usaha sebagai jasa penyalur TBS dari anggota/petani ke Pabrik PT. London Sumatera Indonesia Tbk. Selain usaha tersebut, KUD Karya Mulya membuka usaha di bidang Simpan Pinjam dan menyediakan saprodi/pupuk guna menunjang keperluan para petani. Hingga saat ini, KUD Karya Mulya beranggotakan sejumlah 609 anggota yang terdiri dari 594 anggota petani kelapa sawit dengan luas +- 1.188 Hektar.

Sejak tahun 2017 dengan binaan/pendampingan PT. Lonsum dan Yayasan SETARA Jambi dan Lingkar Hijau Palembang, KUD Karya Mulya mengikuti program RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan sudah mendapat sertifikat tertanggal 24 November 2017. KUD Karya Mulya berbatasan dengan Desa Tebing Tinggi, Desa Karya Makmur dan Desa Suber Sari.


KUD TANI SUBUR – KALIMANTAN TENGAH

Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Subur berdiri pada tahun 1984 dan terdaftar melalui Badan Hukum Koperasi dengan nomor 859/BH/XIX. KUD Tani Subur memiliki cakupan kerja Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah, namun berkantor di Desa Pangkalan Tiga. Sebagai koperasi pertama di desa, KUD Tani Subur juga merupakan induk dari 7 KUD di beberapa desa lain di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Awal mula pembentukan KUD Tani Subur adalah saat masyarakat transmigrasi dating dan berdomisili di desa. Kemudian, Pemerintah Desa dan mansyarakat melakukan musyawarah yang menyepakati pembentukan Lembaga Keuangan Mandiri Desa, agar kelak dapat menjadi tumpuan bagi masyarakat. KUD dimulai dengan unit penjualan sembako dan beberapa tahun kemudian bertambah unit plasma dengan sistem kredit KPPA. Seiring berjalannya waktu, KUD Tani Subur sudah memiliki unit plasma, unit simpan pinjam, unit TOSERBA, unit pusat pelatihan pertanian, dan pedesaan swadaya, serta unit transportasi. Pada tahun 2016, bertambah unit pekebun swadaya, yang bertanggung jawab terhadap sertifikasi pekebun kelapa sawit swadaya..

Membawahi 1.378 anggota yang terdiri dari 435 anggota dari pekebun kelapa sawit plasma, 190 pekebun kelapa sawit swadaya serta 753 anggota umum. KUD Tani Subur kemudian memutuskan untuk mendorong pekebun swadaya sebagai pekebun pertama di Kalimantan yang menjalankan perkebunan sawit yang ramah lingkungan dan sosial, melalui program sertifikasi kelapa sawit yang mengacu kepada prinsip RSPO dan ISPO.

Dengan semangat mempersiapkan generasi muda untuk memimpin desa, KUD Tani Subur mendorong anak-anak muda dari latar belakang pendidikan yang bervariasi untuk mengisi kepengurusan dan seksi-seksi di dalam tubuh ICS yang bernama Unit Pekebun Mandiri yang terbentuk pada bulan Maret 2016.


UD (USAHA DAGANG) LESTARI

Usaha Dagang Lestari atau UD Lestari adalah sebuah usaha dagang yang didirikan pada 01 April 2010, bergerak di bidang jual beli kelapa sawit. UD Lestari memiliki kontrak kerja sama dengan beberapa Pabrik Kelapa Sawit di sekitar Kabupaten Batubara dan Kabupaten Simalungun dan juga bekerjasama dengan puluhan agen pengumpul TBS ataupun dengan petani kelapa sawit yang menjual langsung ke UD Lestari.

UD Lestari memiliki 3 (tiga) ramp tempat lokasi pengumpul TBS. Ramp pertama berada di Dusun Tamsis Desa Simpang Kopi Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batubara, ramp ini merupakan kantor pusat dari UD Lestari sekaligus kantor ICS UD Lestari. Ramp kedua berada Nagori Partimbalan Kecamatan Bandar Masilam Kabupaten Simalungun, sedangkan ramp ketiga berada di Nagori Bandar Masilam I Kecamatan Bandar Masilam Kabupaten Simalungun. Total produksi dari ketiga ramp ditambah produksi agen atau petani yang langsung menjual ke PKS menggunakan Delivery Order UD Lestari sekitar 8.000 Ton setiap bulan.

UD Lestari mengenal RSPO pertama sekali pada pertengahan tahun 2011, dikenalkan oleh PT Perkebunan Nusantara III, sehubungan karena UD Lestari merupakan salah satu pemasok TBS ke PTPN III PKS Sei Mangkei Simalungun maka PTPN III berkomitmen untuk membina Petani mitra binaan UD Lestari mengikuti Program RSPO. Pada pertengahan tahun 2016, PTPN III bekerjasama dengan PT Uilever Indonesia dan IDH menunjuk De Guru Consulting sebagai pendamping dari UD Lestari dalam melaksanakan pelatihan kepada petani, penyusunan berkas dan persiapan menghadapi audit serta pendampingan saat audit oleh PT TUV Rheinland Indonesia, hingga pada tanggal 14 Juli 2017 UD Lestari mendapat sertifikat RSPO.


ASOSIASI PETANI BERKAH MANDAH LESTARI – JAMBI
ASOSIASI CITRA PUTRA HARAPAN - JAMBI
KUD TERATAI BIRU – SUMATERA SELATAN
CU KELING KUMANG


Mitra

YAYASAN SETARA JAMBI
WWF INDONESIA
SNV
SERIKAT PETANI KELAPA SAWIT (SPKS)
SAWIT WATCH
YAYASAN PENELITIAN INOVASI BUMI (INOBU)


Produk

SEKOLAH PETANI Sekolah petani adalah salah satu inisiatif yang dikembangkan oleh FORTASBI pada bulan September 2018 lalu, untuk memberikan dukungan peningkatan kapasitas petani swadaya secara sistematis dan berkelanjutan



Meet The Expert Para pengajar di Sekolah Petani

     1.    Asril Darussamin (GAP-RSPO Expert)
    2.    Dr. Feybe Lumuru (FPIC dan Komunikasi)
    3.    Tri Padukan Purba (GAP Expert)
    4.    H. Narno, Sutiyana, dan Jalal Sayuti (Pelatih Manager Group)
    5.    Rukaiyah Rafik (Pelatih ICS RSPO dan auditor internal)
    6.    Dani Rahadian (Pelatih HCV, GAP, standar ISPO dan ISCC untuk petani)
    7.    Lukita Wardhani (Prinsip Bisnis dan Hak Anak)
    8.    Sahadi (SOP, Prosedur dan Dokumentasi)
    9.    Bernadinus Steni (Legal dan Perundang-undangan)
    10.   Panca Pramudya (Kelembagaan Usaha Petani)
     11.    FASDA RSPO-ISPO







Tim Kami


H.Narno

Ketua

Rukaiyah Rafik

Kepala Sekolah Petani

Novia Ayu.L

Finance & Administration Officer

Lorem Ipsum

Lorem Ipsum





publikasi


SEKOLAH PETANI UNTUK MINYAK SAWIT BERKELANJUTAN

Jambi, 04 Agustus 2018

Sebagi tempat belajar bagi petani swadaya di Indonesia, FORTASBI membentuk Sekolah Petani Untuk Minyak Sawit Berkelanjutan. Sekolah ini diharapkan dapat mendukung petani-petani swadaya untuk belajar tentang implementasi dan praktek minyak sawit berkelanjutan dari para pelaku dan para pakar minyak sawit berkelanjutan...

Baca selengkapnya!




Kontak Kami

Jl.XXXX XXXX-XXXX

Phone: +62-XXXX-XXXX