EnglishIndonesian
allammedica watches for men
FORTASBI siapkan 10000 Anggotanya bersertifikat ISPO hingga tahun 2024
FORTASBI siapkan 10000 Anggotanya bersertifikat ISPO hingga tahun 2024

Kurang dari 5 tahun lagi, Sertifikasi ISPO berlaku wajib bagi petani swadaya di Indonesia, kita belum melihat persiapan significan yang dilakukan oleh petani swadaya, meski dibeberapa kabupaten telah dibangun beberapa inisiatif percepatan ISPO dengan membentuk Kelompok Kerja percepatan ISPO dan merancang regulasi pendukungnya. Namun jika melihat jumlah petani swadaya yang mencapai 3 juta petani, maka kolaborasi untuk percepatan ISPO pada petani swadaya adalah suatu keharusan.

 “Kami dari FORTASBI akan mengambil peran, sebagai bentuk komitmen kami untuk memperkuat standar nasional Indonesia yaitu ISPO, dan mendorong percepatan penerapan ISPO pada petani swadaya, FORTASBI berkomitmen untuk membawa seluruh anggota sebanyak 10.000 petani untuk bersertifikat ISPO secara bertahap hingga tahun 2024.” H. Narno, Ketua FORTASBI.

FORTASBI (Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia) adalah sebuah forum yang diinisiasi oleh beberapa organisasi petani tani swadaya dan LSM dari berbagai wilayah di Indonesia. Forum yang didirikan di tahun 2014 ini adalah forum yang memiliki visi untuk mentrasformasikan nilai minyak sawit berkelanjutan melalui sertifikasi RSPO, ISPO dan ISCC. Sehingga tidak mengherankan jika 90% anggotanya adalah Organisasi Petani yang telah berhasil bersertifikat RSPO, ISPO dan ISCC.

Hingga tahun 2021, jumlah Organisasi petani swadaya yang tergabung dalam FORTASBI adalah mencapai 39 Organisasi terdiri dari 24 Koperasi 11 Asosiasi, 1 Gapoktan, 1 UD, 1 BUMDES dan 1 Kelompok Tani. Total keseluruhan jumlah petani swadaya yang terdaftar di FORTASBI mencapai 10.166 Petani dengan luas lahan mencapai 21.802 Ha. Akan terus meningkat jika melihat tingginya animo petani untuk terlibat dalam sertifikasi minyak sawit berkelanjutan baik ISPO dan RSPO. FORTASBI adalah rumah bagi petani swadaya untuk belajar tentang bagaimana mengimplementasikan nilai sustainability, dan belajar tentang bagaimana membangun jaringan, peningkatan kapasitas dan memperluas dampak sustainability dalam landscape lebih luas yaitu Desa dan Kecamatan.

Jika 6 tahun belakang, FORTASBI hanya focus untuk memperluas jangkauan sertifikasi RSPO, maka 3 tahun kedepan, FORTASBI akan memasukkan percepatan ISPO pada petani swadaya sebagai program prioritas. Dengan tentu saja melakukan intergrasi dan kolaborasi dengan system sertifikasi lainnya.

“Dalam lima tahun kedepan, kami akan membangun pendamping local dan pelatih lokal yang berasal dari petani anggota kami sendiri, agar mereka dapat mengembangkan diri dan juga memiliki tanggung jawab untuk kembali menularkan nilai sustainability. Dalam identifikasi yang kami lakukan, dari 10.000 anggota petani kami, terdapat 518 Pengurus ICS (Internal Control System) yang memiliki potensi cukup kuat dan memiliki pengelaman dalam sertifikasi RSPO dan ISPO, untuk kita dorong sebagai Pendamping Local dan Pelatih Lokal diwilayah mereka masing-masing. Bayangkan jika semua Pendamping Lokal itu memiliki dampingan 1 KUD atau Asosiasi dan Pelatih Lokal itu melatih 25 petani, maka dapat dibayangkan berapa petani yang dapat dijangkau dalam waktu 5 tahun.” Ungkap Rukaiyah Rafik yang juga selaku pengelola Sekolah Petani FORTASBI.



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)