EnglishIndonesian
allammedica watches for men
Kolaborasi demi Proteksi, oleh Koperasi Beringin Jaya dan Manggala Agni
Kolaborasi demi Proteksi, oleh Koperasi Beringin Jaya dan Manggala Agni

Teriakan anggota Manggala Agni Daerah Operasi Siak, Riau, membangkitkan semangat saat berakhirnya apel pagi yang dipimpin oleh Komandan Regu, Alijal.

Pagi itu, usai apel, Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) berganti dari sebelumnya berwarna biru atau tingkat kebakaran rendah, menjadi warna hijau, naik satu tingkat ke level sedang.

"Kenaikan terjadi karena sudah beberapa hari ini tidak turun hujan", jelas Alijal.

Saat level pada papan petunjuk SPBK diubah, anggota Manggala Agni juga mengganti dan mengibarkan warna bendera peringkat bahaya kebakaran dengan warna yang sama.

 

Di Kabupaten Siak, lebih dari setengah luas total wilayah merupakan lahan gambut yang rentan kebakaran, apalagi jika musim kemarau.

Hal ini membuat tim Manggala Agni gencar melakukan sosialisasi kepada warga akan pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran.

Kesadaran warga juga semakin meningkat, terlebih banyak pengelolaan kebun kelapa sawit yang menjadi sumber penghidupan, berada di atas lahan gambut, salah satunya yang dilakukan oleh Koperasi Beringin Jaya.

 

Demi menjaga lingkungan dari titik panas dan kebakaran, Koperasi Beringin Jaya yang telah mendapatkan sertifikat RSPO sejak 2019 ini pun bekerja sama dengan Manggala Agni.

Kolaborasi ini menunjukkan koperasi pertama di Indonesia yang meraih sertifikat RSPO di lahan gambut tersebut, ingin menerapkan praktik perkebunan terbaik dengan tetap menjaga lingkungan.

"Kami dari Koperasi Beringin Jaya tidak terlepas dukungan dari Manggala Agni dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia untuk bekerja sama mengatasi kebakaran", ungkap Ketua Koperasi Beringin Jaya, Sawalmi.

 

Selain memantau titik panas, pengelolaan sawit di lahan gambut juga memerlukan pemantauan air secara berkala.

Amril, salah satu anggota koperasi memastikan perlu ada tim khusus yang diterjunkan untuk mengatur tata kelola air, "pengelolaan lahan gambut harus dikontrol secara berkala sesuai dengan peraturan pemerintah 40-60 cm, kemudian harus ada petugas khusus dari Koperasi Beringin Jaya untuk mengatur tata kelola air, di saat musim hujan kami akan membuka pintu air, kemudian saat kering kami menutup pintu air supaya air terjaga di level 40-60 cm."

Menurutnya, pemantauan tinggi muka air mesti dilakukan dua minggu sekali, kemudian untuk patok subsidennya dipantau per 6 bulan sekali.

 

Sertifikasi membuat para anggota koperasi semakin memahami pentingnya pengelolaan yang tepat di lahan gambut, hal ini juga bisa menepis anggapan buruk isu global terkait pengelolaan sawit di lahan gambut, "sebelum sertifikasi kami belum memahami apa itu gambut, apa itu manfaat gambut, ternyata setelah kami memenuhi dan mengikuti sertifikasi ini kami mengetahui apa itu gambut ternyata sangat rentan terhadap bahaya yang bisa menimbulkan kebakaran, jadi semenjak kami mengikuti sertifikasi kami memahami dan bisa menjaga gambut supaya tetap basah dan terlindungi dari bencana", kata Amril.

 

Sependapat dengan Amril, Sawalmi juga menilai hasil produksi TBS meningkat dengan penerapan praktik perkebunan yang baik, "berkat sertifikasi RSPO kami dapat mengelola kebun kami di lahan gambut dengan baik dan dapat meningkatkan hasil produksi kami, tapi tidak merusak lingkungan."

Koperasi Beringin Jaya menggunakan 15% penerimaan dana insentif untuk pengelolaan lahan gambut secara langsung, yaitu untuk membuat sekat kanal yang ada di kebun petani, namun lebih dari itu manfaat sertifikasi juga digunakan untuk perawatan jalan akses petani ke kebun.

Koperasi Beringin Jaya yang berlokasi di Kampung Koto Ringin Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau ini memiliki 209 anggota petani, dan luas lahan 400 hektare. Koperasi ini juga telah meraih penghargaan atas Pelaksanaan RAT Tercepat Tingkat Kabupaten Siak pada 2020 lalu.

 



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)